Lembah Saga

 


            Kampung Lembah Saga ini memang sudah lama terkenal dengan keangkerannya. Beberapa tahun yang lalu dua orang masyarakat disini menjadi korban akibat masuk hutan lembah saga saat hari larangan. Menurut informasi dari masyarakat sekitar, lembah saga adalah sebuah Gua yang agak lumayan besar. Memiliki mulut gua sebesar dua kali ukuran rumah 3x6 meter persegi. Mulut gua itu sendiri tertutupi dengan kayu kayu kecil yang tumbuh sendirinya, mengeluarkan hawa sejuk dan memiliki sedikit kabut abu-abu merupakan ciri khas mulut gua tersebut. Sukarman, penduduk sekitar gua saga itu selalu masuk hutan untuk mencari rejeki dengan menarik rotan dan getah kayu manis, namun ia tetap mematuhi larangan untuk tidak masuk kesana pada hari jum’at atau hari rabu akhir bulan Muharam.

Siang itu ada TIM dari Pemerintah pusat untuk melakukan survei jalan, lalu bertemu dengan Karman yang baru saja memperbaiki sepedanya di belakang rumah.

 

            “Assalamu’alaikum, Kang.” Tegur Bagus Ketua TIM

 

            “Waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Karman

 

            “Iya, kami rencana mau melakukan survei untuk perbaikan jalan disini selama beberapa hari ke depan. Bisa bantu kami untuk untuk mendampingi di lapangan?” tanya Bagus

 

            “Oh untuk mendampingi, saya tidak bisa pak. Soalnya saya sedang ada kerjaan sedikit dengan bos saya.” Jawab Karman

 

            “Baiklah, nanti jika Akang sudah selesai boleh bergabung.” Kata Bagus

 

            “Iya, terima kasih. Oh ya, jangan terlalu dekat dengan mulut gua.” Pesan Karman saat TIM itu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Novia yang tadi terdiam saja ketika ketua TIM berbicara, nyeletuk. “Memangnya ada apa dengan mulut gua? Jangan-jangan ada harta karun di dalamnya.” Sambil mengangkat tas ransel yang berisi alat tenda. Mereka yang berjumlah empat orang ini kemudian melanjutkan perjalanan tanpa menjawab celoteh Novia.

 

            “Ron, disini saja tendanya,” perintah Bagus pada Roni agar mendirikan tenda sedikit dekat dengan alur kecil yang memilki air bening.

 

“Nov, letakkan disini saja ranselnya,” kata Roni.

 

“Okay, no worry.” Jawab Novi ke inggris – inggrisan.

Kemudian Novia mengeluarkan Topographic dan GPS Map untuk persiapan pengukuran. “Wuuuzzzz ....,” desiran hawa sejuk melintas sekitar telinga Novia, bulu kuduknya merinding  perlahan lalu di usap seolah cuek dengan kejadian itu. Novia kembali melanjutkan kegiatannya untuk memasang peralatan pengukuran ketinggian tanah satu persatu. Bagus dari kejauhan mengambil posisi untuk memotret Novia yang jongkok dan membelakangi posisi hutan saga. “Jepret...Jepreett...Jepreett....,” tiga kali Bagus melakukan jepretan kamera sony RX 100 IV nya yang baru saja di beli seharga 6 jutaan. “Pletek, preeaaakk...”

Lensa Kamera sony yang di tangan Bagus tiba-tiba pecah tanpa ada benturan ataupun terjatuh.

 

Oh My God!?” Bagus sambil bengong tidak percaya saat melihat kameranya tiba-tiba pecah.

 

“Kenapa?” tanya Novi dari kejauhan

 

“Ini, pecah.” Jawab Bagus sambil menunjukkan kameranya

 

“Kenapa ini?” Roni datang menimpali. Sementara Jhon hanya menggelengkan kepala. Bagus menceritakan kepada Roni bahwa lensa kameranya tiba-tiba pecah. Lalu diwaktu yang sama Novi kembali merasakan desiran hawa sejuk dari arah belakangnya. Kali ini Novi mencoba untuk melirik ke arah datangnya hawa sejuk tersebut. “Tidak ada apa-apa, kok merinding sih?!” Novi membatin. Karena merasa penasaran, novi bangun dari tempat ia menyusun peralatan topographic dan mendekati ke arah sebuah bongkahan batu yang tertutupi kayu-kayu dan sudah berlumut. Semakin dekat Novi berjalan, semakin merinding bulu – bulu halus di kuduknya.

 

“Peerrgggiiii....,” suara halus terngiang di telinga Novi

 

“Novia, ayo kita mulai ke arah sana dulu,” kata Bagus dari kejauhan. Novia berada diantara dua kekuatan ketika Bagus memanggilnya untuk balik ke arah TIM. Akhirnya Novia memutuskan untuk kembali ke teman-temannya dan mengabaikan suara halus yang seolah hanya ilusi. Baru beberapa langkah Novia beranjak, “Prreeaeeaaakkkk....” “Awaaasssss.....,” teriak bagus melihat ada sepotongan kayu yang melayang ke arah Novia. Dengan sigap Novia menunduk. Dan blesss..., kayu itu hanya melayang lewat kepala Novia dan jatuh ke rerumputan.

 

“Sepertinya, hutan ini tidak bersahabat,” kata Novia

 

“Iya, aku meraskan ada hawa jahat sekitar sini.” Jawab Jhon yang dari tadi diam. Seiring dengan kalimat yang di ucap Jhon, “wuuussshhhhh....,” sekelebat cahaya merah muncul dari arah batu tempat yang ingin didekati Novia, serta merta menyerang para TIM ini. satu persatu mereka mengamankan diri. Novia yang tadi masih terduduk di tanah mencoba bangkit dan berlindung di balik akar pohon besar.

 

“Novia, kesini!” teriak Bagus mengajak Novia agar mendekati Alur Sungai kecil

 

“Tapi, nan ...,” “Berrruuuaaakkkk ...,” belum sempat Novia berkata, sekelebat cahaya merah saga itu menghantam akar kayu tempat ia berlindung. Seiring dengan kilatan cahaya tadi, “Wuuuuiiisshhh ...,” sosok putih mengangkat tubuh Novia secepat kilat dan “Prreeeaaannngggg ....” hancur dan hangus akar kayu tadi.

 

“Novia.....?!” teriak Bagus, Jhon, dan Roni berbarengan

 

“Tenang, Novia aman.” Jawab lelaki berjubah putih yang tiba-tiba sudah ada di samping mereka sambil meletakkan tubuh Novia yang sudah lemas dan pingsan. Lalu sekelebat lelaki jubah putih itu melompat ke arah cahaya saga yang berseliweran mencari mangsa. Pertarungan semakin sengit ketika cahaya saga itu mampu menyambet ujung izaar. Lelaki berjubah putih tersenyum ketika jemari kirinya menepis izaar nya yang dimakan api.

 

“Kita sudahi main-mainnya,” kata lelaki jubah putih

 

“Prruuuuaaarrr.....,” kilatan cahaya saga membungkah besar seolah marah kepada lelaki berjubah putih. Lalu keduanya bergelut lagi hingga memantulkan cahaya laksana sedang ada petir yang menggelegar seantero jagad raya. Lelaki berjubah putih mendarat kan tubuhnya ke Alur air sungai kecil yang ada disitu lalu menunggu serangan dari cahaya saga. Dengan sedikit pancingan, cahaya menyerang bertubi-tubi dan lelaki berjubah putih memanfaatkan air disitu lalu menrebahkan tubuhnya kedalam air. Serta merta cahaya saga tadi meronta kesakitan karena tubuhnya tersiram air. Bagaikan suara auman singa, cahaya saga tadi menggelepar gelepar dan menghilang. Lelaki berjubah putih kemudian melompat ke arah Novia yang masih pingsan lalu memberikan sedikit air putih dan akhirnya Novia siuman.

 

“Alhamdulillah, kamu sudah siuman,” kata Bagus

 

“Pak Karman?!” tanya Novia kaget melihat wajah lelaki berjubah putih tadi yang ternyata adala Sukarman penduduk kampung Lembah Saga yang mereka temui tadi saat datang kesini.

 

“Iya, ini saya.” Jawab Karman sambil menjeaskan bahwa dia datang kemari karena tadi waktu berpisah dengan TIM ini dia merasa sesuatu akan terjadi karena Karman mengetahui saat ini Novia sedang Haid, tubuhnya tidak bersih. Novia kaget mendengar penjelasan dari Karman. Tapi Novia tidak mempertanyakan hal tersebut karena dia masih trauma. Akhirnya TIM ini memutuskan untuk menunda melakukan survei karena kejadian tadi. Novia berjanji tidak akan berbohong lagi kepada TIM jika suatu saat kembali maka dia akan mengingat pesan Karman agar tidak masuk hutan jika tubuhnya kotor.

 

 

 

 

-------- oo000oo --------

Comments

  1. Nice bg MK.
    Lembah saga itu di mana?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SURAT UNTUK SEMESTA

Moto Peuleupeuk Meuriya

Patok Lele